
Remunerasi dan penggajian adalah komponen vital dalam manajemen sumber daya manusia.
Kebijakan yang tepat akan meningkatkan motivasi, loyalitas, dan kinerja karyawan.
Sebaliknya, kesalahan dalam mengelola sistem ini bisa menimbulkan ketidakpuasan, konflik, bahkan tingginya angka turnover.
Sayangnya, masih banyak perusahaan—baik skala kecil maupun besar—yang tanpa sadar membuat kebijakan yang kurang bijak dalam hal ini.
Berikut adalah 5 kesalahan umum dalam kebijakan remunerasi dan penggajian yang perlu dihindari.
Tidak Transparan Dalam Struktur Gaji
Salah satu kesalahan paling umum adalah kurangnya transparansi mengenai struktur gaji dan tunjangan.
Karyawan sering kali tidak tahu bagaimana gaji mereka ditentukan, apa saja komponen penghasilan yang mereka terima, dan bagaimana perbandingan antar posisi.
Kondisi ini bisa menimbulkan rasa tidak adil, kecurigaan, dan bahkan gosip internal.
Ketika transparansi minim, kepercayaan terhadap manajemen juga ikut menurun.
Idealnya, perusahaan memiliki struktur gaji yang jelas, disosialisasikan dengan baik, dan terbuka untuk ditanyakan oleh karyawan.
Tidak Menyesuaikan Dengan Kinerja
Kesalahan berikutnya adalah memberikan kenaikan gaji atau bonus yang tidak sejalan dengan kinerja.
Ada perusahaan yang memberikan kenaikan gaji secara merata kepada semua karyawan setiap tahun, tanpa melihat kontribusi individu.
Akibatnya, karyawan berprestasi merasa tidak dihargai, dan karyawan yang biasa-biasa saja merasa tidak perlu meningkatkan kinerjanya.
Kebijakan remunerasi seharusnya mampu mengapresiasi performa, bukan sekadar mengikuti masa kerja atau formalitas tahunan.
Evaluasi kinerja yang adil dan sistem insentif yang proporsional akan meningkatkan motivasi dan semangat kerja tim.
Mengabaikan Benchmark Industri
Beberapa perusahaan menetapkan gaji tanpa melihat standar industri atau pasar tenaga kerja.
Hal ini bisa berujung pada dua hal: gaji terlalu rendah sehingga susah menarik talenta berkualitas, atau gaji terlalu tinggi hingga membebani operasional.
Tanpa benchmarking, perusahaan juga tidak tahu posisi daya saing mereka dalam merekrut dan mempertahankan SDM.
Solusinya adalah melakukan survei rutin terhadap standar gaji di industri sejenis, serta menyesuaikan kebijakan internal berdasarkan data pasar yang aktual.
Tidak Memberikan Tunjangan Yang Relevan
Gaji pokok bukan satu-satunya yang penting bagi karyawan.
Banyak perusahaan terlalu fokus pada angka gaji pokok, tapi mengabaikan tunjangan dan benefit yang sebenarnya sangat dihargai karyawan.
Misalnya, tunjangan kesehatan yang kurang memadai, tidak ada fleksibilitas kerja, atau minimnya dukungan pengembangan diri.
Tunjangan yang relevan bisa menjadi diferensiasi penting agar perusahaan tampil lebih kompetitif.
Bahkan, di beberapa kasus, karyawan lebih menghargai tunjangan dan lingkungan kerja yang suportif dibanding sekadar angka nominal.
Tidak Fleksibel Menghadapi Perubahan
Lingkungan bisnis selalu berubah, begitu juga kebutuhan karyawan.
Sayangnya, banyak perusahaan yang masih menggunakan struktur penggajian lama tanpa revisi berarti selama bertahun-tahun.
Misalnya, ketika harga kebutuhan pokok naik tajam atau terjadi inflasi tinggi, tapi gaji tetap stagnan.
Hal ini bisa menurunkan motivasi dan loyalitas karyawan secara drastis.
Kebijakan remunerasi harus bersifat adaptif dan rutin dievaluasi sesuai dinamika ekonomi dan organisasi.
Penutup
Remunerasi dan penggajian bukan sekadar kewajiban keuangan, tapi bentuk nyata apresiasi perusahaan terhadap kontribusi karyawan.
Menghindari lima kesalahan di atas adalah langkah awal menuju sistem SDM yang lebih sehat, adil, dan produktif.
Dengan kebijakan yang transparan, adil, kompetitif, dan relevan, perusahaan akan lebih mudah membangun tim yang solid dan loyal.
Pada akhirnya, karyawan yang merasa dihargai akan memberikan performa terbaiknya.
Cara Rumuskan Tabel Salary Grading. Download sekarang juga disini !!



