Pentingnya Asesmen Kompetensi untuk Promosi Jabatan Karyawan Perusahaan

Perusahaan yang mampu memberikan promosi jabatan kepada karyawannya adalah hal yang istimewa. Para karyawan akan merasa dihargai atas kerja keras mereka. Peran HRD dalam hal ini harus memiliki gambaran yang jelas mengenai kinerja dan penilaian setiap karyawannya. Pelaksanaan asesmen kompetensi untuk promosi jabatan akan membantu HRD dalam memperjelas kinerja dan penilaian calon kandidatnya.

Apa Itu Asesmen Kompetensi?

Asesmen kompetensi adalah sebuah landasan HRD perusahaan dalam mengidentifikasi dan mengukur keterampilan, pengetahuan, dan perilaku karyawannya. Sehingga memungkinkan HRD membuat keputusan yang tepat mengenai pelatihan, pengembangan bakat, dan proses promosi jabatan. Karena setiap HRD perusahaan, sebaiknya memastikan bahwa para karyawannya sangat kompeten dan terampil agar selaras dengan tujuan perusahaan.

Promosi jabatan adalah sebuah aspek untuk menunjukkan pertumbuhan karyawan dan kemajuan karirnya. Proses promosi ini sebaiknya dilaksanakan dengan maksimal agar dapat memotivasi karyawan dan meningkatkan kinerjanya. Supaya tidak salah memilih calon kandidat, maka dari itu asesmen kompetensi untuk promosi jabatan perlu dilakukan.

Asesmen kompetensi ini memberikan pemahaman yang jelas tentang kemampuan karyawan dan area yang perlu mereka tingkatkan. Untuk itu, akan memungkinkan HRD membuat keputusan dalam pemilihan manajemen kandidat yang tepat. Pada dasarnya sangat penting juga untuk menilai potensi kepemimpinan karyawan yang akan naik jabatan. Karena nantinya mereka perlu memiliki kemampuan untuk memotivasi, melimpahkan tugas, dan berkomunikasi secara efektif dengan anggota timnya.

Oleh karena itu, asesmen kompetensi untuk promosi jabatan karyawan mempermudah mengidentifikasi mereka yang memiliki potensi yang lebih unggul. Sehingga hasil asesmen tersebut menciptakan analisa aktivitas dan pencapaian kinerja calon kandidat. Analisa ini juga membantu pihak HRD meminimalisir hambatan dan memecahkan masalah.

Pentingnya Asesmen Kompetensi Untuk Promosi Jabatan

Salah satu pedoman penting dalam proses promosi jabatan karyawan adalah penilaian kinerja. Untuk itu, asesmen kompetensi untuk promosi jabatan sangat penting bagi HRD karena berfungsi sebagai strategi manajemen talenta yang efektif. Berikut beberapa faktor penting asesmen kompetensi dalam HRD perusahaan:

1. Meningkatkan kinerja karyawan

Asesmen ini dapat memberikan penilaian yang tepat dalam memahami kemampuan karyawan dan area yang perlu mereka tingkatkan. Ini akan mengarah pada peningkatan kinerja karyawan dan kepuasan kerja.

2. Mengidentifikasi kesenjangan keterampilan (skill gap)

Asesmen kompetensi membantu HRD mengidentifikasi kesenjangan antara keterampilan yang dimiliki dan yang dibutuhkan oleh karyawan. Informasi ini sangat berharga untuk merancang program pelatihan dan pengembangan promosi jabatan.

3. Mendorong efektivitas perusahaan

Dengan asesmen kompetensi karyawan yang selaras dengan tujuan perusahaan, HRD dapat mendorong efektivitas, produktivitas, dan daya saing karyawannya.

4. Memaksimalkan perekrutan dan penyeleksian

Melaksanakan asesmen kompetensi dalam proses perekrutan memungkinkan HRD memilih kandidat yang tepat. Sehingga, dapat meningkatkan kesesuaian kinerja karyawan dan mengurangi perputaran karyawan.

5. Membuat perencanaan training yang optimal

Asesmen kompetensi membantu dalam mengidentifikasi karyawan berpotensi besar. Sehingga, HRD dapat memfasilitasi perencanaan training yang efektif dan pengembangan kepemimpinan.

3 Jenis Kompetensi Yang Umum Dalam Asesmen

Kompetensi adalah keterampilan dan atribut penting yang diperlukan agar karyawan dapat bekerja secara efektif dalam jabatan barunya. Berikut 3 jenis kompetensi yang paling sering digunakan dalam asesmen kompetensi untuk promosi jabatan:

Kompetensi Fungsional

Kompetensi fungsional merupakan keterampilan dan pengetahuan khusus diperlukan dalam perusahaan. Hal ini berhubungan langsung dengan tanggung jawab pekerjaan, mencakup:

  • Rekrutmen dan Seleksi— Keahlian dalam mencari talenta terbaik, serta melakukan wawancara dan penilaian.
  • Hubungan Karyawan— Keterampilan dalam mengelola konflik karyawan dan keterlibatan karyawan.
  • Pelatihan dan Pengembangan— Keahlian dalam merancang dan menyampaikan program pelatihan yang efektif untuk meningkatkan keterampilan karyawan.

Kompetensi Pokok

Kompetensi pokok adalah keterampilan dan karakteristik dasar seorang karyawan. Hal ini selaras dengan nilai dan budaya perusahaan, seperti:

  • Komunikasi— Kemampuan menyampaikan informasi dengan jelas dan efektif.
  • Pemecahan Masalah— Menganalisis situasi dan menemukan solusi praktis.
  • Kerja tim— Berkolaborasi dengan tim untuk mencapai tujuan dan hasil bersama.

Kompetensi Perilaku

Kompetensi perilaku mengacu pada karakteristik pribadi yang mempengaruhi tindakan dan perilaku karyawan ditempat kerja. Hal ini memainkan peran penting dalam menentukan kesesuaian karyawan dengan budaya perusahaan, meliputi:

  • Kepemimpinan— Kemampuan untuk menginspirasi dan membimbing orang lain.
  • Kemampuan beradaptasi— Menerima perubahan dan bersikap fleksibel dalam kebutuhan bisnis yang terus berkembang.
  • Kecerdasan Emosional— Memahami dan mengelola emosi, serta berinteraksi secara efektif dengan orang lain.

5 Metode Asesmen Kompetensi Untuk Promosi Jabatan Karyawan

Melaksanakan asesmen kompetensi berperan penting untuk mengevaluasi keterampilan dan kemampuan karyawan. 5 metode yang umum digunakan untuk tujuan asesmen ini, yaitu:

1. Asesmen Diri

Karyawan mengevaluasi kompetensi dirinya berdasarkan tingkat kemahiran untuk kepentingan promosi jabatan. Pendekatan ini membantu karyawan mengambil kepemilikan atas perkembangan mereka.

2. Asesmen Manajer

Manajer menilai kompetensi anggota timnya dengan mengamati kinerja sehari-hari mereka.

3. Asesmen Sesama

Dalam asesmen sesama, rekan kerja mengevaluasi kompetensi satu sama lain, membina lingkungan kerja yang kolaboratif dan mendukung.

4. Wawancara Perilaku

Wawancara perilaku melibatkan kandidat dalam memberikan contoh nyata tentang situasi mereka pada kompetensi tertentu. Hal ini sebagai indikator kinerja masa depan.

5. Umpan Balik 360-Derajat

Umpan balik 360-derajat melibatkan pengumpulan umpan balik dari berbagai sumber. Termasuk diantaranya pemimpin atau manajer, dan rekan kerja dalam memberikan pandangan holistik tentang kompetensi kandidat.

Kesimpulan

Setiap HRD perusahaan membutuhkan alat ukur kinerja karyawan yang handal dan valid. Pelaksanaan asesmen kompetensi untuk promosi jabatan akan membantu mereka mencapai tujuan mereka. Ada alasan lain mengapa memiliki proses penilaian promosi jabatan yang autentik itu penting. Hal ini memberikan gambaran yang jelas bagi karyawan yang menunjukkan kemajuan dalam kinerjanya. Sehingga nantinya akan cocok untuk menempati jabatan yang baru.

HRD perusahaan yang menghargai kompetensi karyawannya, akan membentuk masa depan perusahaan yang lebih cerah. Asesmen kompetensi tersebut harus mengukur kinerja karyawan dalam melaksanakan tugasnya dalam jabatannya yang baru nanti. Ini menunjukkan seberapa efektif kinerja seorang karyawan dalam bidang tanggung jawabnya dalam mencapai tujuan perusahaan.

Asesmen kompetensi ini menciptakan kesempatan berharga untuk menganalisis aktivitas dan pencapaian dalam pekerjaan. Analisis seperti ini membantu HRD menghilangkan hambatan dan memecahkan masalah. Selain itu, program ini juga memberikan kesempatan bagi karyawan untuk mengevaluasi diri mereka sendiri. Hal ini memungkinkan mereka untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan mereka. Promosi jabatan ini membuka jalan bagi mereka untuk maju dalam perusahaannya.

Kenali Kelebihan dan Kekurangan AI di Industri HR

Tidak banyak orang mengenal kelebihan dan kekurangan AI di industri HR atau human resources. Human resources yang juga dikenal dengan sumber daya manusia adalah salah satu department inti dalam perusahaan. AI atau Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan x machine learning sudah menjadi kebutuhan perusahaan termasuk dalam departemen ini.

kelebihan dan kekurangan AI di industri HR

Kecerdasan buatan menganalisis data dalam jumlah besar untuk menghasilkan respons dan informasi yang sangat mirip dengan manusia.  Tetapi AI melakukannya lebih cepat dan akurat, termasuk dunia SDM.  Kecerdasan buatan di departemen ini menjadi bahan pembicaraan hangat.

Kelebihan dan Kekurangan AI di Industri HR

Bagaimanapun juga, teknologi ini memiliki kelebihan dan kekurangan yang harus diperhitungkan oleh perusahaan yang ingin mengaplikasikannya untuk departemen HR.    85% perusahaan telah mengaplikasikan AI untuk keperluan perusahaan, mulai dari mengidentifikasi kelayakan kandidat atau mendeteksi keahliannya. AI dapat melakukannya tanpa penilaian subjektif layaknya manusia dengan kemampuan untuk mempersingkat proses rekrutmen.

Kelebihan AI untuk kebutuhan departemen SDM adalah:

  1. Proses Rekrutmen Singkat dan Sederhana

Biasanya, proses rekrutmen menggunakan platform wawancara video atau chatbots. Proses rekrutmen menggunakan aplikasi dapat menghemat waktu, tenaga dan biaya dengan merampingkan proses rekrutmen manual. AI dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi pemilihan kandidat dengan mengumpulkan data mereka dan menganalisisnya.

Contoh konkretnya adalah semua kandidat menjawab pertanyaan melalui chatbots sebelum wawancara sebenarnya dimulai. Dengan demikian, kandidat yang tidak sesuai kebutuhan perusahaan tidak perlu melanjutkan wawancara. AI dapat menyisihkan kandidat yang tidak sesuai kebutuhan perusahaan sehingga memungkinkan perekrut untuk fokus pada kandidat yang lebih berkualitas.

  1. Berkurangnya Subjektivitas

Subjektivitas manusia dalam proses rekrutmen adalah penyebab utama dalam kegagalan merekrut talenta terbaik.  Seringkali, beberapa kandidat terpilih hanya berdasarkan usia, jenis kelamin, ras, penampilan, dan lainnya, bukan hanya berdasarkan keterampilan dan pengalaman mereka.

AI memecahkan masalah ini dengan mudah karena karakternya yang independen, objektif dan tidak memiliki bias terhadap kandidat terkait dengan stereotip apa pun.  Teknologi semacam itu menganalisis kompetensi berdasarkan pada pengetahuan dan keahlian kandidat sepenuhnya.

  1. Mendeteksi Pengalaman Kandidat Secara Akurat

Teknologi AI dalam bentuk chatbot atau asisten virtual dapat meningkatkan mendeteksi pengalaman kandidat secara akurat. Rekrutmen manual tidak dapat mencermati pengalaman setiap kandidat karena staf SDM masih disibukkan dengan banyaknya tugas lain selain rekrutmen. Tidak hanya itu, teknologi AI memungkinkan kandidat berinteraksi dengan perusahaan secara langsung dan mengenal deskripsi pekerjaan dengan cepat.

  1. Mengurangi Beban Pekerjaan SDM

AI memungkinkan staf departemen SDM Anda untuk fokus pada tugas lain selain rekrutmen.  Dengan demikian, departemen ini bisa lebih produktif. Aspek bisnis yang perlu mendapat perhatian seperti seperti training, peningkatan kenyamanan lingkungan kerja, dan sebagainya dapat ditingkatkan sementara AI menangani proses rekrutmen.

AI juga berpotensi membantu proyek yang membutuhkan pengetahuan lebih intensif , seperti pengembangan konten pelatihan. Beberapa perusahaan besar menggunakan alat AI generatif dalam mengembangkan skrip produksi untuk video pelatihan terkait etika dan kepatuhan.

AI juga dapat melakukan pekerjaan yang membutuhkan ketelitian. Pasalnya, staf HRD bisa melakukan kesalahan saat memasukkan data. Faktor seperti kelelahan tidak dapat memengaruhi kinerja AI seperti halnya manusia. AI dapat melakukan -tugas yang dapat direplikasi.

Kekurangan AI untuk Departemen SDM

Intinya, kelebihan AI dapat mengurangi waktu dan anggaran SDM untuk proses rekrutmen. Anggaran perusahaan berkurang dan staf SDM juga dapat lebih fokus. Namun tentunya ada kekurangan dari sistem kecerdasan buatan. Kekurangan tersebut adalah:

  1. Ketergantungan pada Kata Kunci

Sistem kerja AI terlalu bergantung pada kata kunci tertentu. Sistem rekrutmen menggunakan kata kunci tertentu saat memindai lamaran dimana pencarian tersebut berdasar kata dan frasa untuk memilih kandidat sesuai dengan posisi. Hal ini membuat banyak kandidat mengenali sistem kerja AI sehingga kandidat menggunakan kata kunci ini dalam aplikasi mereka, meski sebenarnya peran mereka tidak sesuai dengan lowongan tersebut.

  1. Kurangnya Keterlibatan Manusia

Pada dasarnya, proses rekrutmen masih membutuhkan tenaga manusia. Terkadang, melihat lamaran melalui sudut AI saja tidak cukup menentukan apakah seorang kandidat sesuai untuk pekerjaan yang ada. Perusahaan mungkin mengejar tujuan khusus dimana robot tidak akan selalu dapat mengikuti tujuan ini saat mencari kandidat yang tepat

Staf HRD biasanya lulusan jurusan psikologi yang dapat membaca karakter dari hasil wawancara. Namun, hal ini tentunya tidak dapat dilakukan AI. Pasalnya, AI hanya mengartikan beberapa frase sesuai program saja. Sedangkan hasil penilaian manusia bisa menilai karakter dari wawancara dan hasil psikotes.

  1. Hasil Kurang Sesuai

AI memang sangat membantu kinerja manusia meskipun masih jauh dari sempurna.  Tidak semua hasil teknologi AI sepenuhnya akurat. Terlebih, AI tidak dapat benar-benar diandalkan karena alat yang menggunakan teknologi ini seringkali tidak memperhitungkan beberapa faktor yang mungkin mengakibatkan kesalahan interpretasi dari aplikasi kandidat.

  1. Butuh SDM dengan Kemampuan Khusus

Teknologi AI terkadang terlalu canggih sehingga tidak semua staf HRD dapat mengoperasikannya. Penerapan teknologi kecerdasan buatan di departemen SDM membutuhkan profesional. Disinilah tantangan perusahaan yang harus dapat dipahami perusahaan dimana staf HRD harus terampil dalam mengoperasikan perangkat yang mengaplikasikan AI untuk rekrutmen.

  1. Penerapan Tidak Maksimal

Sama halnya dengan poin sebelumnya dimana tidak semua staf departemen SDM belum siap untuk meningkatkan keterampilan mereka. Tidak semua perusahaan merasa penerapan AI ke dalam alur kerja mereka. Segala jenis perubahan besar membutuhkan banyak perhatian karena tidak semua sumber daya tersedia di semua perusahaan.

Teknologi AI membutuhkan perangkat yang tidak murah. Biasanya, perusahaan kecil lebih banyak mengandalkan staf untuk mengerjakan berbagai tugas. Mereka belum berpikir bahwa AI merupakan investasi awal yang menguntungkan. Investasi di awal cukup besar dimana mungkin perusahaan belum siap dengan anggaran dan sumber daya manusia.

AI mendeteksi pola—tetapi pola bukanlah segalanya. AI dapat memproses data dalam jumlah besar dan mendeteksi pola dalam hitungan detik. Namun, itu tidak dapat secara efektif mengukur antusiasme, kemauan untuk belajar, kecerdasan sosial dan emosional yang sebenarnya, serta keterampilan dan atribut lain yang sangat (dan semakin) berharga dalam budaya tempat kerja kolaboratif yang sehat.

Kesimpulan

Kelebihan dan kekurangan AI di industri HR tentunya harus menjadi pertimbangan perusahaan. Dalam satu dekade mendatang, AI dapat mengambil alih begitu banyak aspek kehidupan, bukan hanya di departemen SDM. Perusahaan harus siap dengan kemungkinan ini.

Algoritma dan regulasi seputar AI terus berubah. Penggunaan kecerdasan buatan berkembang pesat. Hal ini membutuhkan staf yang dapat mengawasi sekaligus mengatur operasional AI. Terkadang, teknologi AI berpotensi melakukan pelanggaran privasi dan hak karyawan tanpa disadari.

Namun, AI masih memiliki kelebihan dimana AI masih dapat menggantikan tugas karyawan. Biasanya, AI generatif dapat membuat pengumuman internal untuk pendistribusian secara rutin ke semua saluran komunikasi dalam perusahaan.

Bagaimana Cara Administrasi Karyawan dengan AI Mempermudah Bidang Manajemen SDM?

Masa modern membuat HRD dapat bekerja secara efisien dalam mengelola SDM dengan bantuan AI. Kecerdasan buatan tersebut dimanfaatkan HRD dalam bentuk software maupun aplikasi. Ada banyak sekali software dan aplikasi ini yang bisa di download melalui Google Play Store maupun App Store. Bagi Anda yang hendak memanfaatkan software ini perlu memahami sekilas cara administrasi karyawan dengan AI. Dijamin pengelolaan akan jauh lebih cepat daripada menggunakan metode manual.

cara administrasi karyawan dengan AI

  1. Memudahkan Pengajuan Cuti dan Pengaturan Shift

Setiap perusahaan yang telah menggunakan AI software HRD mendapatkan kemudahan setiap karyawan ingin mengajukan cuti. Bagian HRD akan langsung mengetahui siapa saja yang hendak mengajukan cuti di hari yang sama. Hal ini akan sangat berdampak pada pengaturan shift kerja juga. Bagaimanapun Perusahaan harus tetap melaksanakan aktivitasnya meskipun ada karyawan cuti sehingga tetap harus ada karyawan yang masuk kantor. Artinya tidak boleh ada karyawan dalam jumlah banyak yang mengajukan cuti di hari yang sama karena dapat mengganggu aktivitas pencapaian target perusahaan. Dengan bantuan AI software, memungkinkan HRD mengetahui lebih cepat berapa orang yang ingin cuti di hari tertentu. Para HRD tidak lagi perlu mencocokkan secara manual yang memakan lebih banyak waktu dan ada kemungkinan error besar. Error dalam mengatur shift bisa sangat berakibat fatal terhadap kelancaran aktivitas bisnis. Terlebih lagi perusahaan harus mencapai target tahunan untuk bisa berkompetisi dengan perusahaan serupa lainnya. Cara administrasi karyawan dengan AI yang satu ini sangat berpengaruh baik terhadap produktivitas setiap karyawan, tidak hanya HRD. Terlebih lagi komunikasi antara karyawan dengan HRD setiap kali ingin cuti dapat dilangsungkan melalui software tersebut. Tidak lagi harus mengajukan secara manual dengan jalan tatap muka karena ada kemungkinan HRD atau karyawan punya jadwal yang berbeda. Alhasil karyawan hanya perlu mengajukan melalui computer atau smartphone. Kemudian HRD akan menganalisa sesuai shift dahulu terhadap pengajuan cuti. Selanjutnya HRD dapat membalas surat pengajuan cuti karyawan melalui software tadi juga. Sisanya karyawan akan segera mengetahui persetujuan cuti secara real time dari HRD. Hasil persetujuan cuti juga akan tersimpan dalam record cloud. Hal ini jauh lebih menghemat space dibandingkan HRD harus menyimpan berbagai surat dan catatan mengenai pengajuan cuti dari banyak karyawan. Potensi mengalami kehilangan catatan juga lebih kecil ketika data disimpan ke dalam cloud.

  1. Memudahkan Absensi Harian Setiap Karyawan

Mayoritas karyawan dari generasi1980-an mengetahui sistem absensi manual dengan mencatat di buku. Namun cara ini punya kelemahan fatal berupa titip absensi. Karyawan yang datang dahulu dapat memalsukan kehadiran temannya yang belum datang. Apapun alasannya keterlambatan dan ketidakdatangan akan mempengaruhi performa perusahaan. Alhasil metode yang lebih mutakhir dikembangkan untuk mengatasi kelemahan tersebut. Salah satu metode yang dimaksud adalah pengisian daftar absensi dengan bantuan AI. Karyawan yang melakukan absensi akan dicek lokasinya melalui software atau aplikasi. Alhasil HRD dapat mengetahui apakah karyawan tersebut hadir tepat waktu atau tidak dengan melihat berdasarkan lokasi ketika karyawan mengisi daftar kehadiran. Karyawan yang terlambat masuk kantor akan mengalami pemotongan gaji. Apabila ada karyawan yang hobi terlambat masuk kantor, maka pihak HRD dapat memberikan surat peringatan. Hal ini diharapkan membuat karyawan hadir ke kantor lebih disiplin karena akan berdampak pada performa perusahaan. Terlebih lagi instalasi software AI di bagian ini meminimalisir maintenance alat kehadiran, seperti absensi dengan sidik jari. Perusahaan tidak lagi perlu melakukan maintenance terhadap alat pendeteksian sidik jari yang sering kali rusak akibat goresan maupun sensor kurang peka dalam mendeteksi sidik jari. Dana yang tadinya digunakan untuk maintenance alat tersebut dapat dialihkan untuk kegiatan lain yang lebih berguna terhadap perkembangan perusahaan. Tidak heran cara administrasi karyawan dengan AI banyak dipelajari dan diterapkan oleh perusahaan modern. Solusi daftar kehadiran dengan bantuan AI ini muncul sejak seluruh dunia mengalami pandemic dan mengharuskan karyawan bekerja darimana saja. Faktanya solusi ini merupakan suatu terobosan mutakhir yang mampu menyelesaikan masalah absensi di banyak negara.

  1. Membantu Sistem Penggajian dan Pembagian THR

Salah satu tugas berat dari HRD berhubungan dengan penggajian karyawan. Gaji karyawan tidak hanya berupa gaji pokok tetapi juga berhubungan dengan absensi, tunjangan, dan juga reward. Apabila ada karyawan yang terlambat masuk kantor maka akan berdampak pada potong gaji. Padahal merekap absensi karyawan bukan hal mudah, terlebih lagi untuk perusahaan yang punya karyawan lebih dari ratusan. Kesalahan perhitungan gaji dapat berujung pada protes dari karyawan terkait. Guna menghindari masalah tersebut, para HRD sebaiknya menggunakan AI. Software administrasi karyawan berbasis AI dapat dengan mudah melacak kehadiran setiap karyawan secara lebih akurat. Akurasi perhitungan daftar hadir akan membuat perhitungan gaji per bulan menjadi lebih akurat juga. Potensi kesalahan hitung yang lebih kecil akan sangat mempengaruhi kondisi damai di kantor HRD. Tidak hanya terhindar dari potensi kesalahan hitung absensi, tetapi HRD juga dapat menghindari kesalahan pemberian reward terhadap karyawan. Walaupun memang sistem reward antara perusahaan satu dengan lainnya berbeda, hal ini tetap harus diberikan kepada karyawan yang tepat. Diharapkan pemberian reward tersebut dapat memacu kinerja karyawan lain agar berprestasi juga. Kemudian mengenai pembagian tunjangan kepada karyawan, biasanya disesuaikan dnegan kebijakan masing-masing perusahaan. Variabel ini juga bisa saja menyebabkan kesalahan pemberian gaji ketika perhitungannya dilakukan secara manual. Namun kesalahan pemberian tunjangan dapat ditekan dengan bantuan AI. Kecerdasan buatan mampu menghitung dengan lebih akurat berdasarkan nama, jabatan, dan factor lainnya terkait pemberian tunjangan. Hal ini sangat meringkas pekerjaaan para HRD ketika harus menghitung pemberian gaji para karyawan. Terlebih lagi masalah gaji merupakan hal yang sensitive terhadap seluruh karyawan. Cara administrasi karyawan dengan AI ini merupakan solusi ketika HRD perlu menambahkan penggajian dengan THR setahun sekali. HRD tidak perlu lagi menghitung manual untuk pemberian THR yang hanya dilakukan setahun sekali kepada para karyawan. Perhitungan pembagian THR akan dilakukan secara otomatis oleh sistem AI sehingga potensi kesalahan perhitungan juga lebih kecil.

Berdasarkan pembahasan di atas, kita dapat memahami bahwa AI di bagian HRD cukup penting. Terlebih lagi HRD punya peran penting berkaitan pengelolaan karyawan di suatu perusahaan. AI dapat membantu HRD hal pemantauan pengajuan cuti, pengaturan shift, perhitungan kehadiran karyawan, dan juga penggajian. Keseluruhan task tersebut berpotensi memiliki error ketika dilakukan secara manual, tetapi berbeda saat menggunakan AI. Kemungkinan terjadi error sangat kecil ketika para HRD sudah mengaplikasikan sistem AI ini. Namun perlu dipahami bahwa setiap aplikasi maupun software ini masih terus dilakukan pengembangan oleh developer masing-masing. Sebaiknya para HRD juga selalu update terhadap software maupun aplikasi tersebut setiap muncul versi terbaru. Pembaharuan terhadap aplikasi atau software tersebut diharapkan mampu mengatasi bug yang terjadi di versi sebelumnya.